Showing posts with label Festival. Show all posts
Showing posts with label Festival. Show all posts

Monday, October 15, 2018

Asal Usul Festival Duan Wu (Duan Wu Jie/ Peh Cun) atau Dragon Boat Festival


Asal Usul Festival Duan Wu (Duan Wu Jie/ Peh Cun)  atau Dragon Boat Festival

Setiap Tanggal 5 bulan 5 penanggalan kalender Imlek, Masyarakat Tionghoa dalam tradisinya selalu memperingati sebagai Hari Raya Duan Wu atau Duan Wu Jie [端午]. Hari Raya Duan Wu ini telah diperingati semenjak 2000 tahun yang lalu dan merupakan tradisi yang tak terpisahkan dalam kebudayaan Masyarakat Tionghoa.

Terdapat banyak sebutan untuk Festival  Duan Wu, diantaranya adalah  Wu Ri Jie [午日]Chong Wu Jie [重五]Wu Yue Jie [五月]Yu Lan Jie [兰节]Tian Zhong Jie [天中]dan Shi Ren Jie [诗人节]. Festival Peh Cun di kalangan Tionghoa Indonesia  dan dalam Bahasa Inggris sering disebut dengan  Dragon Boat Festival yaitu Festival Perahu Naga.

Terdapat banyak sekali versi mengenai asal usul tentang Festival Duan Wu, diantaranya adalah

Cerita tentang kematian Tokoh Patriot Qu Yuan [屈原],  
Cerita tentang Perdana Menteri Wu Zi Xu [伍子胥]  di Negara Chu yang Setia dengan Negaranya
Cerita tentang Anak yang berbakti Chao E [曹娥].

Tetapi versi yang paling berpengaruh dan paling banyak diceritakan adalah mengenai kematian Tokoh Patriot Negara Chu yang bernama Qu Yuan di zaman Chun Qiu Zhan Guo [春秋战国].

Menurut Buku Sejarah “Shi Ji []” biografi Qu Yuan ”Qu Yuan Jia Sheng Lie Zhuan [屈原贾生列传]”, Qu Yuan adalah seorang Menteri dan juga seorang Sastrawan Kerajaan Chu [楚国] pada zaman Chun Qiu [春秋]. Raja Chu saat itu adalah Chu Huai Wang [怀王].

Qu Yuan menganjurkan beberapa pandangan Politiknya seperti memperkuat Militer Kerajaan, Memperkuat Ekonomi Kerajaan, Menggunakan Orang-orang terpelajar dan bijak serta bersekutu dengan Kerajaan Qi untuk melawan Kerajaan Qin.

Tetapi anjuran-anjuran tersebut semuanya ditentang oleh kaum bangsawan, dimana para kaum bangsawan telah termakan oleh tak tik adu domba Kerajaan Qin. Qu Yuan kemudian diberhentikan dari Jabatan kementeriannya dan diusir keluar dari Ibukota Kerajaan Chu tersebut serta diasingkan ke daerah Yuan dan daerah Xiang.

Di Pengasingannya tersebut, Qu Yuan menuliskan beberapa karya Puisi yang  menunjukkan kekuatirannya kepada Negara dan Rakyatnya. Puisi-puisi yang sangat berpengaruh tersebut diantaranya adalah “Li Sau []”, Tian Wen []” dan “Jiu Ge [九歌]”.

Pada Tahun 278 Sebelum Masehi, Pasukan Militer Kerajaan Qin berhasil menguasai Ibukota Kerajaan Chu. Qu Yuan merasa sangat sedih, hatinya bagaikan ditusuk oleh ribuan pedang. Tapi Qu Yuan tetap saja tidak mau meninggalkan Negeri tercintanya ini sehingga pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Kalender Imlek, Qu Yuan menuliskan Karya Puisi terakhirnya yang berjudul “Huai Sha [怀沙]”

Qu Yuan Membacakan puisi terakhirnya ssambil mendayung perahunya ke tengah-tengah sungai Mi Luo, lalu dinyanyikan nya sajak-sajak ciptaannya yang telah dikenal rakyat sekitarnya, yang isinya mencurahkan rasa cinta tanah air dn rakyatnya. kemudian dengan memeluk sebuah batu besar, Qu Yuan melompat ke dalam Sungai “Mi Luo []”. Qu Yuan mengorbankan dirinya demi Kesetiaan dan kecintaannya terhadap negerinya, Negara Chu.

Karena Qu Yuan juga merupakan Sastrawan yang berjasa, maka Festival Duan Wu juga disebut dengan Shi Ren Jie [诗人节] yaitu hari Sastrawan  Puisi.

Mendengar tentang kematian Qu Yuan, Rakyat Kerajaan Chu berbondong-bondong menuju ke Sungai Mi Luo dengan tujuan untuk dapat menyelamatkan Mayat Qu Yuan agar tidak dimakan oleh ikan-ikan atau binatang sungai lainnya.

Banyak diantara mereka yang menggunakan Perahu berkepala naga  untuk mencari Mayat Qu Yuan yang diyakini akan mengapung, perahu perahu panjang berkepala naga digunakan untuk menakut-nakuti roh-roh air yang dipercaya telah menyembunyikan mayat Qu Yuan, perahu-perahu kepala naga inilah yang bakalnya menjadi sebuah cikal bakal festival Peh cun. Banyak pula Nelayan yang kemudian melemparkan nasi, telur ayam dan makanan lainnya ke dalam sungai agar Ikan, Udang dan binatang sungai lainnya tidak memakan mayatnya Qu Yuan.

Kemudian juga ada yang membungkus nasi-nasi tersebut dengan daun dan mengikatnya dengan benang berwarna sehingga dapat tengelam kedasar sungai dalam perkembangannya hingga kini menjadi makanan Bak Cang seperti yang kita kenal sekarang.

KEGIATAN DAN TRADISI YANG BERJALAN SAMPAI SEKARANG

Lomba Perahu Naga

Tradisi perlombaan perahu naga ini telah ada sejak Zaman Negara-negara berperang. Perlombaan ini masih ada sampai sekarang dan diselenggarakan setiap tahunnya baik di Tiongkok Daratan, Hong Kong, Taiwan maupun di Amerika Serikat dan di Indonesia. Bahkan ada perlombaan berskala internasional yang dihadiri oleh peserta-peserta dari manca negara, kebanyakan berasal dari Eropa ataupun Amerika Utara. Perahu naga ini biasanya didayung secara beregu sesuai panjang perahu tersebut.

Di Indonesia perlombaan perahu naga ini telah lama diperlombakan pada beberapa tempat pada beberapa kota atau daerah yang banyak dialiri sungai-sungai yang cukup besar seperti sungai Batanghari (Jambi), Siak (Pekanbaru), Musi (Palembang), Mahakam (Samarinda dan Tenggarong pada festival Erau), Kapuas (Pontianak), Barito (Banjarmasin), Cisadane (Tanggerang) atau di kepulauan yang mempunyai banyak selat seperti di Bau-Bau (Buton), Makasar, Kendari, Tanjung Pinang dan Batam (Riau) dan bahkan sampai ke Maluku (Bandaneira), Cilacap dan kepulauan Mentawai dll.

Bagi penduduk Jakarta, perayaan lomba perahu naga yang dirayakan pada pesta Peh Cun itu lebih dikenal melalui pesta perayaan Peh Cun di Tangerang yang diperlombakan pada sungai Cisadane yang cukup luas, dan sekarang menjadi bagian dari festival budaya Cisadane.

Makan bakcang dan kicang

Tradisi makan bakcang secara resmi dijadikan sebagai salah satu kegiatan dalam festival Peh Cun sejak Dinasti Jin. Sebelumnya, walaupun bakcang telah populer di Tiongkok, namun belum menjadi makanan simbolik festival ini. Bentuk bakcang sebenarnya juga bermacam-macam dan yang kita lihat sekarang hanya salah satu dari banyak bentuk dan jenis bakcang tadi. Di Taiwan, pada zaman Dinasti Ming akhir, bentuk bakcang yang dibawa oleh pendatang dari Fujian adalah bulat gepeng, agak lain dengan bentuk prisma segitiga yang kita lihat sekarang. Isi bakcang juga bermacam-macam dan bukan hanya daging. Ada yang isinya sayur-sayuran.

Sedangkan kicang atau tanpa isi (tawar), dimasak dengan air kapur yang terbuat dari pembakaran kulit kerang sehingga dinamakan kicang (Teochew) atau kicung (Hakka), sehingga kicang menjadi kenyal dan berwarna kekuning-kuningan. Kicung biasanya dimakan dengan gula pasir atau gula jawa.

Menggantungkan Rumput Ai dan Changpu

Peh Cun yang jatuh pada musim panas biasanya dianggap sebagai bulan-bulan yang banyak penyakitnya, sehingga rumah-rumah biasanya melakukan pembersihan, lalu menggantungkan rumput Ai (Hanzi: 艾草) dan changpu (Hanzi: 菖埔) di depan rumah untuk mengusir dan mencegah datangnya penyakit. Jadi, festival ini juga erat kaitannya dengan tradisi menjaga kesehatan di dalam masyarakat Tionghoa.

Mandi Tengah Hari

Tradisi ini cuma ada di kalangan masyarakat yang berasal dari Fujian (Hokkian, Hokchiu, Hakka), Guangdong (Teochiu, Kengchiu, Hakka) dan Taiwan. Mereka mengambil dan menyimpan air pada tengah hari festival Peh Cun ini, dipercaya dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit bila dengan mandi ataupun diminum setelah dimasak.

Menegakkan telur

Saat ini banyak dari kalangan masyarakat Tionghoa mengadakan semacam permainan di vihara atau pun tempat tempat umum untuk menegakkan telur mentah, sehingga terlihat seperti berdiri Fenomena ini dapat terjadi disebab­kan pada tanggal ini Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa, sehingga gaya gravitasi Bumi menjadi lemah.

 Itu sebabnya telur dapat berdiri di tanah. Fenomena telur dapat berdiri sendiri sesungguhnya pun dapat dipraktekkan pada saat terjadi gerhana Matahari dan Bulan, akibat gaya tarik dari Matahari dan Bulan yang meningkat.

Karena dukungan fenomena alam yang ada, maka memberdirikan telur pun turut menjadi bagian dari Festival Duan Wu Jie setiap tahunnya.

Sunday, September 23, 2018

Festival La Ba Jie


Festival La Ba Jie 腊八節

Budha Sakyamuni

Festival ini berlangsung setiap bulan 12 imlek, pada saat itu musim dingin sedang berlangsung, disaat musim dingin adalah musim istirahat bagi para petani, dimana banyak festival yang berlangsung di saat itu.
Festival La Ba Jie untuk agama Budha menjadi sangat special untuk menghormati Budha Sakyamuni mencapai pencerahan.

Sembahyang La Ba-ji ini sudah ada sejak jaman purba tapi setelah jaman Dinasti Han barulah ditetapkan jatuh pada tanggal 8. Pada bulan ini ada kebiasaan orang membuat bubur yang disebut bubur la-ba atau. Bahan yang dipakai biasanya dari beras, ketan, kedelai , kacang hijau dicampur dengan buah-buahan kering seperti angco, goji berry, kismis, biji teratai. Di berbagai tempat biasanya disebut Laba Congee. Sekarang bahan mentah bubur ini sudah dikemas dalam satu katung dan tersedia di setiap supermarket dengan label Ba-bao zhou. Ada juga makanan yang terkenal selain Laba Congee yaitu Laba Garlic.


Kebiasaan membuat bubur ini ada yang mengatakan berasal dari kalangan Buddhis. Mereka membuat ini untuk memperingati Sakyamuni pada saat menderita kelaparan dan kehausan dalam perjalanan di negara bagian Bihar- India. Sakyamuni jatuh kelelahan di tepi sebuah sungai dan ditolong oleh seorang perempuan gembala yang memberinya rebusan makanan kering dicampur dengan buah-buahan liar yang ada ditempat itu. Setelah bersantap Sakyamuni segar kembali, ia lalu lanjutkan samadhinya di bawah pohon Bodhi hingga mencapai pencerahan dan menjadi Buddha.

Penganut Buddha menjadikan hari ini sebagai hari pencerahan. Setelah agama Buddha masuk Tiongkok, kebiasaan ini dicampuradukan dengan kebiasaan sembahyang La-ji pada akhir tahun. Pada hari itu disamping pembacaan kitab suci, para bikkhu membuat bubur yang dibagikan pada umat sekitar vihara dan kaum miskin yang datang.

Ada versi lain yang mengatakan bahwa kebiasaan membuat bubur la-ba adalah usaha untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan penyakit. Dalam Xuanzhong ji, sebuah buku kuno yang kini telah hilang terdapat catatan tentang tiga putra Maharaja Zhuanxu yang meninggal muda berubah menjadi hantu pembawa penyakit yang khusus meneror anak-anak. Anak kecil yang terkena demam akibat ulah para hantu itu. Hantu takut pada benda yang berwarna merah, sebab itu para orang tua lalu membuat bubur kacang merah untuk menakuti hantu-hantu itu. Ini salah satu kisah asal mula bubur la-ba.


Yang paling popular adalah kisah yang dihubungkan dengan Zhu Yuan-zhang Kaisar pertama Dinasti Ming. Ketika masih kecil, karena keluarganya yang sangat miskin Zhu terpaksa bekerja menjadi gembala di rumah seorang tuan tanah. Majikan ini keras dan bengis, Tak jarang hanya karena kesalahan kecil Zhu dihajar babak belur. Suatu hari karena kerbau yang digembalakan jatuh keparit dan kakinya patah, setelah di hajar Zhu dimasukkan dalam gudang kosong tanpa diberi makan. Dalam keadaan kelaparan Zhu kecil berusaha berburu tikus untuk menangsel perut. Ia menemukan lobang tikus ketika dibongkar didalamnya ia menemukan berbagai biji-bijian dan buah-buahan kering. Dari bahan bahan itu Zhu membuat bubur, dan berkat bubur itu Zhu terselamatkan. Setelah menjadi kaisar, Zhu Yuanzhang, yang bosan akan segala hidangan mewah, suatu hari teringat masa kecilnya yang penuh derita, Ia lalu meminta juru-masak istana membuatkan bubur seperti yang pernah dinikmatinya ketika itu, lalu ia memanggil para menterinya untuk bersama-sama menikmati. Kebiasaan ini kemudian berlanjut dan menular kekalangan rakyat.


Kebenaran kisah ini masih menjadi pertanyaan mengingat dalam catatan sejarah Dinasti Song, di Kaifeng yang pada waktu itu jadi ibukota, sudah ada kebiasaan membagi bubur pada saat sembahyang la-ji. Dan yang lebih awal lagi ternyata di vihara-vihara pada jaman Tang sudah ada kebiasaan membuat bubur yang kemudian dibagikan pada penduduk miskin setiap bulan 12. Bubur itu disebut Bubur Buddha – Fo Zhou. Para bikkhu itu berkeliling mencari sedekah, dan memperoleh berbagai bahan makanan, semua itu dikumpulkan dan dimasak bersama-sama, dan jadilah bubur dengan bermacam-macam rasa didalamnya. Inilah yang kemudian dipercaya sebagai awal adanya bubur la-ba. Kebiasaan ini meluas di kalangan rakyat. Mereka membuat bubur untuk menjamu para sahabat dan handai taulannya untuk menjalain keakraban dan kerukunan. Para pejabat juga tidak ketinggalan hari itu mereka menyediakan bubur dalam jumlah besar, membuka tempat santap bersama sebagai wujud kepedulian pada masyarakat.