Sunday, September 23, 2018

Festival Weiya (Chinese: 尾牙)

Festival Weiya (Chinese: 尾牙)


Festival Weiya (Chinese: 尾牙) adalah sebuah perayaan untuk penghormatan kepada Tu Di Gong (Fude Zhengshen 福德正神) , festival weiya berlangsung pada tanggal 16 bulan ke-12 imlek, dimana setiap kelenteng merayakannya dengan mempersembahkan lilin, petasan, dan makanan (buah, ikan, ayam, dsb)

Festifal Weiya dipercaya oleh para pengusaha adalah limpahan berkah dari dewa bumi, yang senantiasa melindungi usaha dan perdaganan mereka, mereka percaya pada hari ini adalah saat terbaik untuk memberikan derma makanan kepada para pekerja, bahkan ditaiwan banyak para pengusaha, pemilik toko mentraktir para pegawai dengan berbagai makanan.

Festival Weiya di zaman modern telah mengambil peran lain dalam budaya dan masyarakat Taiwan. Ini bukan hanya upacara keagamaan, tetapi juga telah menjadi acara sosial di banyak perusahaan. Pengusaha akan memperlakukan karyawan mereka dengan perjamuan Weiya tradisional untuk menunjukkan rasa terima kasih mereka atas kerja keras karyawan mereka selama setahun terakhir. Ini adalah cara bagi majikan untuk berkomunikasi dengan karyawan mereka, jadi ini telah menjadi acara katering besar di banyak perusahaan. Banyak acara hiburan yang berbeda datang bersamaan dengan pesta Weiya. Banyak perusahaan besar akan menghabiskan banyak uang untuk memeberikan hadiah atau undian kepada para pegawai.

Makanan tradisional yang dibuat oleh keluarga Koah-pau (bahasa Tionghoa: ), roti gulung , berisi daging babi, bubuk kacang tanah, ketumbar dan acar Cina, dll. Popiah (Cina: ), lumpia tradisional China. Kedua hidangan umumnya dibuat  saat  Festival Weiya

Pantangan merayakan weiya untuk  pusat-pusat medis, apotek dan rumah duka tidak akan merayakan Weiya karena tidak pantas bagi bisnis semacam ini untuk mengharapkan bisnis yang lebih baik.

Festival La Ba Jie


Festival La Ba Jie 腊八節

Budha Sakyamuni

Festival ini berlangsung setiap bulan 12 imlek, pada saat itu musim dingin sedang berlangsung, disaat musim dingin adalah musim istirahat bagi para petani, dimana banyak festival yang berlangsung di saat itu.
Festival La Ba Jie untuk agama Budha menjadi sangat special untuk menghormati Budha Sakyamuni mencapai pencerahan.

Sembahyang La Ba-ji ini sudah ada sejak jaman purba tapi setelah jaman Dinasti Han barulah ditetapkan jatuh pada tanggal 8. Pada bulan ini ada kebiasaan orang membuat bubur yang disebut bubur la-ba atau. Bahan yang dipakai biasanya dari beras, ketan, kedelai , kacang hijau dicampur dengan buah-buahan kering seperti angco, goji berry, kismis, biji teratai. Di berbagai tempat biasanya disebut Laba Congee. Sekarang bahan mentah bubur ini sudah dikemas dalam satu katung dan tersedia di setiap supermarket dengan label Ba-bao zhou. Ada juga makanan yang terkenal selain Laba Congee yaitu Laba Garlic.


Kebiasaan membuat bubur ini ada yang mengatakan berasal dari kalangan Buddhis. Mereka membuat ini untuk memperingati Sakyamuni pada saat menderita kelaparan dan kehausan dalam perjalanan di negara bagian Bihar- India. Sakyamuni jatuh kelelahan di tepi sebuah sungai dan ditolong oleh seorang perempuan gembala yang memberinya rebusan makanan kering dicampur dengan buah-buahan liar yang ada ditempat itu. Setelah bersantap Sakyamuni segar kembali, ia lalu lanjutkan samadhinya di bawah pohon Bodhi hingga mencapai pencerahan dan menjadi Buddha.

Penganut Buddha menjadikan hari ini sebagai hari pencerahan. Setelah agama Buddha masuk Tiongkok, kebiasaan ini dicampuradukan dengan kebiasaan sembahyang La-ji pada akhir tahun. Pada hari itu disamping pembacaan kitab suci, para bikkhu membuat bubur yang dibagikan pada umat sekitar vihara dan kaum miskin yang datang.

Ada versi lain yang mengatakan bahwa kebiasaan membuat bubur la-ba adalah usaha untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan penyakit. Dalam Xuanzhong ji, sebuah buku kuno yang kini telah hilang terdapat catatan tentang tiga putra Maharaja Zhuanxu yang meninggal muda berubah menjadi hantu pembawa penyakit yang khusus meneror anak-anak. Anak kecil yang terkena demam akibat ulah para hantu itu. Hantu takut pada benda yang berwarna merah, sebab itu para orang tua lalu membuat bubur kacang merah untuk menakuti hantu-hantu itu. Ini salah satu kisah asal mula bubur la-ba.


Yang paling popular adalah kisah yang dihubungkan dengan Zhu Yuan-zhang Kaisar pertama Dinasti Ming. Ketika masih kecil, karena keluarganya yang sangat miskin Zhu terpaksa bekerja menjadi gembala di rumah seorang tuan tanah. Majikan ini keras dan bengis, Tak jarang hanya karena kesalahan kecil Zhu dihajar babak belur. Suatu hari karena kerbau yang digembalakan jatuh keparit dan kakinya patah, setelah di hajar Zhu dimasukkan dalam gudang kosong tanpa diberi makan. Dalam keadaan kelaparan Zhu kecil berusaha berburu tikus untuk menangsel perut. Ia menemukan lobang tikus ketika dibongkar didalamnya ia menemukan berbagai biji-bijian dan buah-buahan kering. Dari bahan bahan itu Zhu membuat bubur, dan berkat bubur itu Zhu terselamatkan. Setelah menjadi kaisar, Zhu Yuanzhang, yang bosan akan segala hidangan mewah, suatu hari teringat masa kecilnya yang penuh derita, Ia lalu meminta juru-masak istana membuatkan bubur seperti yang pernah dinikmatinya ketika itu, lalu ia memanggil para menterinya untuk bersama-sama menikmati. Kebiasaan ini kemudian berlanjut dan menular kekalangan rakyat.


Kebenaran kisah ini masih menjadi pertanyaan mengingat dalam catatan sejarah Dinasti Song, di Kaifeng yang pada waktu itu jadi ibukota, sudah ada kebiasaan membagi bubur pada saat sembahyang la-ji. Dan yang lebih awal lagi ternyata di vihara-vihara pada jaman Tang sudah ada kebiasaan membuat bubur yang kemudian dibagikan pada penduduk miskin setiap bulan 12. Bubur itu disebut Bubur Buddha – Fo Zhou. Para bikkhu itu berkeliling mencari sedekah, dan memperoleh berbagai bahan makanan, semua itu dikumpulkan dan dimasak bersama-sama, dan jadilah bubur dengan bermacam-macam rasa didalamnya. Inilah yang kemudian dipercaya sebagai awal adanya bubur la-ba. Kebiasaan ini meluas di kalangan rakyat. Mereka membuat bubur untuk menjamu para sahabat dan handai taulannya untuk menjalain keakraban dan kerukunan. Para pejabat juga tidak ketinggalan hari itu mereka menyediakan bubur dalam jumlah besar, membuka tempat santap bersama sebagai wujud kepedulian pada masyarakat.

Saturday, September 22, 2018

Festival La Jie


La Jie

La Jie adalah sebuah perayaan festival pada saat bulan 12, tepatnya sebelum agama Budha masuk ke china, rakyat disana saat bulan 12 sering mengadakan festival untuk menghormati Dewata Purba Sheng Nong dan dewata yang lainnya, pada saat ini lah bulan 12 memasuki musim dingin  sehingga membuat para petani mempersiapkan akan musim  semi tiba, mereka berucap syukur kepada para dewata pertanian dan para roh seperti roh air, roh harimau (kucing) berharap di musim tanam tiba para hama (tikus,serangga, babi hutan ) tidak menyerang lahan mereka...

Ucapan syukur ini biasanya mereka akan bercengkrama dengan para tetangga menyantap makanan berasal dari daging dan bawang(pangsit) untuk menambah stamina mereka menghadapi musim dingin. Seiring  agama Budha masuk ke China ada yang namanya makanan LABA Chongee dimana sekarang makanan ini terbuat dari biji-bijian  dan buah, makanan ini juga sudah dikemas dengan rapi tinggal memasaknya saja menjadi bubur.

Festival ini sudah banyak bergeser dan banyak yang menyamakan karena waktunya hampir sama menjadi Festival LABA, yaitu sebuah perayaan agama Budha memperingati Budha Sakyamuni mencapai penerangan sempurna.